Dedi Irwansyah
“Sesungguhnya para malaikat membentangkansayapnya untuk penuntut ilmu karena rida dengan apayang mereka lakukan.”
(HR. Abu Daud )
Ia tumbuh di rumah yang tidak pernah selesai dibangun. Lantainya menyeruakkan aroma tanah yang lembab. Kedua orang tuanya hanya petani biasa yang bekerja dalam panas dan hujan. Keduanya jauh dari tipikal manusia yang mahir merumuskan cita-cita dalam kalimat yang panjang. Keduanya hanya tahu satu hal. Anaknya harus kuliah. Karena kuliah adalah harapan dan senjata pengubah nasib. Keduanya kerap merapal doa saat menjejalkan tangan di sela-sela padi. Keduanya sering menyepuh asa saat meniup api yang pada jerami. Yang anginnya lalu membumbung ke langit tinggi. Mereka ingin memutus rantai nasib yang selama ini mereka terima tanpa menggugat. Mereka ingin memiliki asa untuk anak sulungnya. Sebagai orang pertama yang mengenyam bangku kuliah di keluarga besarnya. Bismillah. Tanpa perayaan, mereka antarkan pemuda itu ke gerbang universitas.
Pemudi lainnya datang dari kampung yang jauh. Tempat kabut turun lebih cepat di malam hari. Tempat tidak ada nama untuk jalan-jalan yang melintasi desanya. Sekarang ia telah tiba di kota ini untuk kuliah. Dan, kota menyambutnya dengan hingar-bingar yang aneh. Indah namun tak selalu ramah. Di sini, tidak semua orang menggunakan idiom yang sama. Banyak istilah-istilah baru yang segmented. Sehingga, ada hari-hari ia merasa asing. Merasa harus berlari cepat memahami realita, di depan mata. Ia ingin segera bisa mengubah keterasingan menjadi teman. Di tengah balutan rindu yang menggumpal pada kampung halaman.
Yang lain datang dari telatah yang tidak familiar karena satu tujuan bulat. Kuliah, itu saja. Sebuah keinginan yang bagi banyak orang tampak sederhana. Namun baginya justru adalah pengorbanan paling dalam dan panjang. Uang bulanan kiriman orang tua hanya cukup buat makan dua kali sehari. Tidak ada kiriman untuk biaya kuliah. Dan karena itu, ia bekerja serabutan. Asal halal dan bisa buat membayar kursi kuliah. Pagi hingga sore, ia berkutat dengan diktat dan tugas. Sore hingga larut malam, ia berpendar menadah upahnya. Ia tahu, ada mimpi yang harus dibayar. Ada jatah tidur yang hilang. Ia tegar bertahan setiap kali bayang wisuda itu muncul. Di sana, ia ditemani ayah, ibu, dan saudara.
Aku pernah bertemu dengan yang beroman tenang, tapi bahasa tubuhnya menyiratkan percakapan lain. Ia seperti tengah bertarung dengan satu derita. Dengan deraan sakit yang kerap datang tanpa permisi. Tetapi ia memilih diam dan berupaya senyum. Ia tidak ingin mengundang iba. Ia tidak mau menjadi magnet belaskasihan. Ia ingin dipersepsi sebagai normalnya mahasiswa. Yang ingin tetap hadir, belajar, proaktif, dan menuntaskan tugas dengan apik. Ia mungkin tersenyum saat nyeri datang. Ia barangkali berjalan tegak ketika tubuhnya memohon untuk rehat. Ketegarannya bukan karena ketiadaan luka. Tetapi karena untuk menjaga agar harapan tetap memiliki ruang. Dan harapan itu adalah kuliah.
Juga, pernah aku bersua dengan yang rumahnya jauh dari kampus. Perjuangannya menuju kampus tidak pernah tercatat dalam transkrip nilai. Ada masa ia mendapat pinjaman sepeda motor. Tapi dalam banyak waktu, ia menggunakan kendaraan umum yang kerap datang sesuka waktu. Ia tidak pernah tinggal di kos. Karena biayanya terlalu mahal bagi keluarganya yang menggantungkan hidup pada musim. Lagi pula, di rumah ia masih harus berkebun membantu orang tua. Tangannya harus tetap bekerja agar asap tetap terlihat dari cerobong dapur rumahnya. Dalam semua itu, ia telah meyakinkan diri bahwa kuliah adalah jembatan menuju masa depan yang lebih menenangkan.
Ada yang ke kampus dengan darah santri yang kental. Yang menghafal sekian juz dari al-Qur’an. Yang menguasai, dan barangkali juga telah menghafal, ragam kitab–kitab dasar di pesantren. Yang menempatkan posisi guru, ustad, kiyai, dan dosen pada maqom yang mulia. Begitu penting sang guru baginya. Dan begitu agung ruh sang guru itu. Baginya, guru mesti memiliki kedalaman spiritualitas. Karena guru adalah tauladan lahir dan batin. Ia telah mempersepsikan, dan juga mengharapkan, ruang-ruang kuliah itu berubah menjadi taman-taman surgawi. Baginya, kuliah adalah trayektori akademik sekaligus perjalanan spiritual.
Mereka telah hadir di sini. Dan aku akan bermunajat.
“Ya Rahman, Ya Rahim. Mereka telah datang dari titik-titik yang beragam. Dan, Engkau mengenal dan menyayangi mereka lebih dari siapa pun. Di balik seragam sama yang mereka kenakan, mereka mungkin menyimpan beban berbeda yang tidak sepenuhnya hambatan pahami. Ya Kariim, bantu hamba menjaga dian asa yang mereka bawa; mencerahkan hari-hari mereka dengan hikmah dan pengetahuan; dan memenangkan cita-cita mereka di atas ego hamba. Ya ‘Aliim, bimbing kami agar tidak mematahkan sayap mereka; tidak memburamkan logika mereka; tidak memasung masa depan mereka. Ya Ghaffar, ingatkanlah kami selalu, tentang kepakan sayap malaikat di atas langkah-langkah kecil mereka. Sayap-sayap yang kami percaya ada, meski tak kasat mata.” Wallahua’lam.