ADAPTASI ATAU TERLINDAS? (Redesain Kurikulum UIN di Tengah Ancaman Badai Disrupsi)

IMG-20250627-WA0041

Oleh :

Suhendi*

 

Pada tanggal 13-15 Juni 2025 yang lalu, UIN Jurai Siwo Lampung baru saja merampungkan sebuah agenda strategis bertajuk: “Redesain Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE)”. Kegiatan ini menjadi bagian dari respons cepat terhadap transformasi kelembagaan yang sedang berlangsung, sekaligus menjawab kebutuhan perubahan struktur kurikulum yang cukup mendasar sesuai amanat Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.

Menyesuaikan kurikulum dengan regulasi memang langkah yang penting, namun itu tidak cukup. Upaya ini mesti disertai dengan pemahaman mendalam terhadap dinamika sosial-ekonomi yang menyertai perubahan tersebut. OBE ibarat pisau bermata dua: bisa menjadi instrumen transformatif bagi pendidikan tinggi, tetapi juga berpotensi menyesatkan arah jika dijalankan tanpa kepekaan terhadap konteks zaman. Sebab pada hakikatnya OBE hanyalah kerangka metodologis alat bantu kita merancang kurikulum secara sistematis dan terukur, bukan tujuan akhir itu sendiri.

Kegagalan kita membaca konteks zaman dapat menyeret kita pada tiga masalah krusial: lahirnya capaian pembelajaran yang dangkal dan impulsif, kaburnya identitas keilmuan, dan merosotnya relevansi institusi pendidikan terhadap realitas sosial. Bahaya paling nyata adalah ketika OBE direduksi menjadi sekadar alat birokrasi. Banyak kampus terjebak menjalankannya demi mengejar akreditasi (LAM atau BAN-PT). Outcome dirumuskan sekadar mengikuti template, asesmen dilakukan secara mekanis, dan seluruh proses berujung pada tumpukan dokumen tanpa jiwa. Padahal, esensi OBE bukan di situ melainkan pada kesadaran reflektif: kompetensi apa yang benar-benar dibutuhkan dunia saat ini, dan bagaimana kampus bisa menyiapkannya secara otentik?

Di sinilah kita melihat peluang simfoni. Ketika Kementerian Agama menggagas konsep Kurikulum Cinta dan Kemendiktisaintek mengusung semangat Kampus Berdampak, maka OBE bisa menjadi partitur penyatunya. Ibarat orkestra: OBE adalah notasi sistemnya, Kurikulum Cinta adalah nada dasar yang memberi rasa, Kampus Berdampak adalah ritmenya yang menggerakkan, dan Visi Institusi adalah dirigen yang menjaga harmoni. Bila semuanya berpadu, maka yang lahir bukan sekadar kurikulum, tapi sebuah simfoni pendidikan: yang searah dengan kebijakan nasional, relevan dengan realitas sosial, dan kokoh dalam melintasi perubahan.

OBE bukan tujuan akhir, Ia hanyalah perahu yang kita dayung di tengah samudra disrupsi. Kurikulum Cinta adalah layarnya yang menangkap nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Kampus Berdampak adalah dayung yang mendorongnya menuju pantai solusi. Dan Visi Kampus menjadi bintang penuntun arah. Jika perahu ini diarahkan dengan bijak, ia akan menjadi magnum opus yang tak hanya menyelaraskan ilmu dan amal, tapi juga merawat bumi, menghidupkan nalar, dan membangun peradaban.

Beberapa hari lalu, saya membaca laporan menarik dari portal iNews.id: disebutkan lebih dari 3.000 kantor cabang bank di Indonesia telah ditutup. Penyebab utamanya adalah migrasi layanan ke aplikasi digital. Data OJK per Maret 2025 menunjukkan, jumlah kantor bank umum tinggal 21.035 unit, turun 3.208 dari Maret 2024. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, fenomena ini adalah bentuk adaptasi bank terhadap perubahan perilaku nasabah dan masifnya adopsi teknologi digital.

Berita lain datang dari kanal internasional, The Sun UK, melaporkan bahwa China tengah menguji coba rumah sakit virtual yang hampir sepenuhnya dijalankan oleh “dokter AI”. Agent Hospital proyek kolaboratif dari Tsinghua University mampu melayani 3.000 pasien per hari, dan diproyeksikan bisa mencapai 10.000 pasien dengan kemampuan belajar mandiri berbasis simulasi. Tak hanya menghemat jutaan dolar, sistem ini juga menjadi titik balik dalam cara manusia memahami diagnosis dan perawatan medis.

Sementara itu, CNBC Indonesia melaporkan demonstrasi besar-besaran lebih dari 50 ribu pengemudi ojek online (ojol) di depan kantor Kementerian Ketenagakerjaan. Aksi ini digerakkan oleh Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) sebagai bentuk protes terhadap sistem kemitraan yang dianggap timpang. Para driver menuntut hak dasar seperti upah minimum, jam kerja layak, jaminan sosial, dan perlindungan hukum yang selama ini justru dihindari oleh perusahaan aplikasi. Dalam ekonomi digital yang diagung-agungkan, mereka justru terjebak dalam siklus “kerja lebih lama, tapi penghasilan tidak pasti”.

Model kemitraan seperti ojol ini bahkan telah dilarang di beberapa negara seperti Spanyol dan Inggris karena dianggap eksploitatif. Maka, demo ojol tersebut sejatinya bukan sekadar tuntutan perubahan sistem tapi sebuah gugatan moral terhadap wajah gelap gig economy, di mana kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan keadaban sosial.

Rangkaian berita tersebut memberikan lanskap yang gamblang tentang empat gelombang disrupsi besar yang kini menembus ekosistem pendidikan tinggi. Pertama revolusi kecerdasan buatan (AI); menggantikan kerja kognitif manusia. Kedua transformasi model gig economy;  menggeser kerja tetap menjadi kerja fleksibel tanpa perlindungan. Ketiga otomatisasi masif; menyingkirkan kerja-kerja rutin lewat mesin dan algoritma. Keempat disrupsi digitalisasi; mempercepat migrasi layanan, komunikasi, dan model kerja ke ruang digital secara masif.

Situasi ini mengonfirmasi tesis Carl Benedikt Frey dalam bukunya The Technology Trap (2019): “Kita tidak sedang menghadapi evolusi pekerjaan, melainkan revolusi pekerjaan.” Sebuah perubahan yang tidak lagi gradual, melainkan fundamental dan berpotensi menyapu segala lini bagi siapapun yang tidak siap dalam menghadapi gelombang disrupsi ini. Keempat gelombang ini bukan sekadar ancaman pasif, tetapi kekuatan aktif yang mendesak kampus terutama UIN untuk melakukan rekonstruksi paradigmatik dalam merancang kurikulum dan menata ulang orientasi pendidikannya.

Disrupsi Artificial Intelligence (AI)

Lanskap ketenagakerjaan global kini tengah bergeser secara drastis akibat penetrasi masif kecerdasan buatan (AI). Bukan sekadar tren teknologi, AI telah menjelma menjadi kekuatan disruptif yang mengubah fondasi dunia kerja secara mendalam. Profesi-profesi yang dulu dianggap stabil kini terpinggirkan bukan karena kehilangan makna, melainkan karena kalah dalam hal kecepatan, presisi, dan efisiensi. Laporan The Future of Jobs Report (2023) mencatat bahwa 44% keterampilan global akan bergeser dalam lima tahun ke depan. Sementara 85 juta pekerjaan akan hilang akibat otomatisasi, AI justru menciptakan 97 juta pekerjaan baru yang belum sepenuhnya kita kenali hari ini.

Transformasi ini telah menyentuh hampir seluruh sektor. Di dunia pendidikan, AI tutor mulai menggantikan peran guru dalam kelas remedial. Di perbankan, analis kredit dan tenaga layanan nasabah digantikan oleh sistem otomatis dan robo-advisor yang bekerja tanpa henti. Bank-bank besar di Indonesia pun menutup banyak kantor cabang seiring migrasi layanan ke aplikasi digital. Jurnalis, desainer, ilustrator, penerjemah, hingga akuntan turut merasakan tekanan dari algoritma dan platform AI yang mampu menghasilkan konten visual, teks, serta analisis data dalam hitungan detik.

Dampak disrupsi juga merambah bidang kesehatan dan hukum. Chatbot medis dan asisten hukum berbasis NLP kini menjalankan fungsi administratif dan diagnostik awal. Namun bersamaan dengan gelombang penghapusan profesi ini, justru muncul peluang baru: dari prompt engineer dan AI ethicist, hingga digital sharia analyst dan algorithm bias auditor. Dunia kerja sebenarnya bukan sedang runtuh, tetapi sedang dibentuk ulang dengan konfigurasi yang sama sekali baru.

Dalam konteks ini, pendidikan tinggi Islam seperti UIN tak bisa sekadar menjadi penonton. Ketika profesi lama memudar dan bentuk profesi masa depan masih samar, kurikulum didesain untuk menjadi peta jalan yang membekali mahasiswa untuk tetap relevan dan bernilai. Bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pemakna dan penjaga nilai. Di tengah gelombang disrupsi, kurikulum diharapkan menjadi suluh yang menuntun arah perubahan bukan sekedar menyesuaikan, tetapi juga menimbang, mengkritisi, dan mengarahkan.

Disrupsi Gig Economy

Di tengah lanskap kerja yang terus bergeser, hadir apa yang disebut sebagai gig economy sebuah ekosistem kerja berbasis proyek, platform digital, dan fleksibilitas ekstrem. Pekerjaan tak lagi berlangsung dalam jangka panjang atau berstatus tetap, melainkan datang dalam bentuk tugas-tugas pendek yang diselesaikan secara cepat. Mahasiswa baru lulus tak harus masuk kantor; cukup mendaftar di platform seperti Fiverr, Upwork, atau GoKampus, mereka sudah bisa menjual keahlian ke pasar global. Assistance freelance dan remote work adalah jenis pekerjaan yang  populer di industri gig economy.

Sosiolog Inggris Guy Standing dalam bukunya The Precariat: The New Dangerous Class, yang terbit 2011 menyebut kelas pekerja baru ini sebagai “prekariat digital”: sekelompok individu yang hidup tanpa kepastian pendapatan, tanpa jaminan sosial, dan sepenuhnya tunduk pada logika algoritma platform kerja daring.

Produktivitas ekonomi memang menunjukkan tren peningkatan, namun kesejahteraan para pekerja justru semakin tergerus. Data dari ILO (2023) mencatat bahwa 80% pekerja gig di Asia Tenggara tidak memiliki jaminan kesehatan sebuah potret rapuhnya perlindungan sosial dalam ekosistem kerja baru ini. Di sisi lain, seorang sarjana kini bisa bekerja sebagai content creator, admin toko daring, affiliate marketer, atau digital marketer profesi-profesi yang tak tercermin sama sekali dalam ijazah akademiknya.

Inilah wajah baru dunia kerja yang mematahkan logika lama: profesi tidak lagi ditentukan oleh latar belakang pendidikan formal, melainkan oleh kecakapan dalam merespons kebutuhan pasar secara real-time. Namun di balik fleksibilitas ini, tersembunyi tantangan yang tak kalah serius: ketidakpastian penghasilan, ketiadaan jaminan sosial, serta tekanan kompetisi yang tak kenal henti. Gig economy memang membuka banyak pintu kesempatan, tetapi pada saat yang sama merobohkan banyak pagar perlindungan yang dulu menjaga martabat pekerja.

Disrupsi Otomatisasi (Robotisasi)

Jika gig economy menggoyang status pekerjaan, maka otomatisasi benar-benar menghapusnya. Mesin-mesin cerdas dan algoritma mulai mengambil alih tugas-tugas yang dahulu dijalankan manusia. Laporan World Economic Forum (2020) memprediksi 85 juta pekerjaan akan hilang pada 2025, tergantikan oleh 97 juta profesi baru yang memerlukan keterampilan digital tinggi.

Studi Oxford Martin School yang dilakukan oleh Frey dan Osborne pada 2017 memperkirakan bahwa sekitar 47% pekerjaan di Amerika Serikat berisiko tinggi mengalami otomasi, dengan dampak yang diprediksi jauh lebih besar di negara-negara berkembang yang mayoritas tenaga kerjanya masih bergantung pada pekerjaan rutin.

Otomatisasi melanda berbagai sektor. Di industri kreatif, platform seperti ChatGPT, Midjourney, dan DALL-E menggantikan peran penulis naskah, ilustrator, bahkan penyunting video. Dunia media menyaksikan lahirnya berita otomatis, sementara dunia pendidikan mulai mengadopsi AI tutor dan koreksi esai otomatis. Startup seperti Tokopedia dan Shopee telah merampingkan tim customer service-nya karena chatbot mampu menjawab pertanyaan 24/7 dengan efisien.

Dalam industri manufaktur, kamera AI dan robot lengan otomatis menggantikan tenaga kerja di lini perakitan, pengangkutan, dan quality control. Bahkan fungsi manajerial kini dijalankan oleh sistem prediktif berbasis AI yang mampu mengatur jadwal produksi dan mendeteksi kerusakan mesin sebelum terjadi. Di tengah gelombang ini, muncul profesi baru seperti prompt engineer dan AI compliance officer mereka yang bertugas mengarahkan, memfilter, dan mengawal kerja-kerja AI agar tetap berada dalam koridor etis dan hukum.

Disrupsi Digitalisasi

Digitalisasi adalah gelombang keempat yang memaksa hampir seluruh sektor kehidupan bermigrasi ke ruang virtual. Dunia perbankan, layanan kesehatan, pendidikan, hingga perdagangan kini dijalankan melalui aplikasi, platform daring, dan sistem otomatis. Interaksi tatap muka perlahan tergeser oleh chatbot, layanan mandiri berbasis aplikasi mobile, serta teknologi yang dirancang untuk menyederhanakan proses dan menekan biaya.

Di sektor kesehatan, China telah mengembangkan rumah sakit virtual yang hampir seluruhnya dijalankan oleh dokter berbasis AI, mampu melayani ribuan pasien setiap harinya. Sementara di Indonesia, platform seperti Halodoc dan Alodokter telah merevolusi cara masyarakat mengakses layanan medis. Di saat yang sama, digitalisasi juga mengubah cara manusia belajar, mengonsumsi informasi, dan menjalin interaksi sosial. Platform seperti TikTok tak lagi sekadar hiburan, tetapi menjelma menjadi ruang baru bagi dakwah, bisnis kreatif, hingga gerakan sosial.

Empat gelombang disrupsi ini AI, gig economy, otomatisasi, dan digitalisasi tidak datang secara terpisah. Mereka saling memperkuat, menumpuk, dan mempercepat perubahan. Dalam konteks ini, kampus keagamaan seperti UIN tidak bisa lagi berdiri di pinggir arus. Redesain kurikulum bukan sekadar tanggapan administratif terhadap regulasi, melainkan strategi mendasar untuk bertahan dan melangkah. Tanpa itu, kita berisiko tak hanya tertinggal, tetapi kehilangan relevansi dalam dunia yang bergerak begitu cepat.

Terlebih lagi, digitalisasi turut mengubah lanskap dakwah dan pendidikan. Kampus dan lembaga keagamaan ditantang untuk tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga bermakna di ruang digital. Adaptasi bukan lagi sebuah pilihan, tetapi keharusan historis. Karena dalam dunia yang terus bergeser ini, hanya institusi yang lentur dan reflektif yang akan tetap mampu menyalakan cahaya peradaban.

Mengapa Redesain Kurikulum UIN Menjadi Sangat Mendesak?

Kurikulum bukan sekadar daftar mata kuliah yang wajib ditempuh mahasiswa. Ia adalah cermin dari cara sebuah institusi memandang masa depan mewakili visi, orientasi nilai, dan kesiapan kampus dalam merespons dinamika zaman. Sayangnya, hingga kini, banyak Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) masih menyusun kurikulum seolah dunia di luar kampus tetap diam di tempat. Akibatnya, lulusan yang dihasilkan kerap tidak selaras dengan kebutuhan zaman: disiapkan untuk ekosistem kerja yang sudah bergeser drastis, bahkan dalam banyak hal telah usang dan kehilangan relevansi.

Kesenjangan ini memperlihatkan jurang serius antara capaian akademik dan kebutuhan nyata di dunia kerja. Kita mendapati lulusan yang kaya teori tetapi gagap dalam praktik; berpengetahuan, tetapi miskin konteks. Ini bukan semata soal kurikulum yang ketinggalan zaman, melainkan kegagalan mendasar dalam membangun sistem pendidikan yang hidup. Maka, yang dibutuhkan bukan revisi administratif tambal-sulam, melainkan redesain kurikulum yang menyentuh akar: mengubah cara berpikir, cara merancang, dan cara menghidupkan pembelajaran agar kontekstual, adaptif, dan berdampak.

Apalagi saat ini, dunia sedang berada dalam pusaran empat disrupsi besar yang datang bersamaan: kecerdasan buatan (AI), gig economy, otomatisasi massal, dan penetrasi digitalisasi lintas sektor. Keempat gelombang ini bukan hanya mengguncang industri dan struktur kerja, tetapi juga secara aktif mendesak perguruan tinggi untuk merombak kerangka pendidikannya dari hulu hingga hilir. Universitas tidak bisa lagi berdiri sebagai menara gading yang statis, melainkan dituntut untuk menjadi simpul perubahan yang lentur dan reflektif.

Dalam pusaran disrupsi ini, UIN justru memiliki posisi strategis yang tidak dimiliki banyak institusi lain. Ketika dunia kerja semakin mekanistik dan kehilangan sisi kemanusiaan, kampus keislaman bisa menjadi jangkar etis yang menyeimbangkan antara teknologi dan nilai. UIN memiliki mandat untuk mengajarkan pentingnya maqāṣid syarī‘ah, tanggung jawab sosial, dan visi kemanusiaan universal nilai-nilai yang sangat dibutuhkan ketika algoritma bekerja tanpa nurani dan teknologi melaju tanpa etika yang membingkainya.

Sebagaimana diingatkan Joseph E. Stiglitz dalam bukunya People, Power, and Profits (2019), pasar dan teknologi tanpa kontrol etis hanya akan memperdalam ketimpangan dan merusak tatanan sosial. Pendidikan tidak cukup hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk warga yang kritis dan bertanggung jawab atas arah masa depan. Laporan The Future of Jobs (2023) pun mempertegas urgensi ini: 44% keterampilan kerja akan bergeser dalam lima tahun mendatang. Maka, redesain kurikulum UIN bukan sekadar agenda akademik, melainkan mandat moral dan historis untuk melahirkan lulusan yang tidak sekadar mampu bekerja, tapi juga siap membimbing masa depan dengan harapan, nilai, dan keberanian.

Long life learning:  Belajar Sepanjang Hayat, Bertahan Sepanjang Zaman

Secara subtantif strategi adaptasi kurikulum UIN Jurai Siwo Lampung diarahkan untuk menjawab tiga elemen utama visi institusi, pertama: membentuk lulusan yang unggul dan berdaya saing global, kedua: mendorong sinergi antara dimensi sosial, ekologi, teknologi, dan kewirausahaan (socio-eco-techno-preneurship), dan ketiga: menanamkan trilogi nilai profetik maslahat, rukun, dan cerdas dalam setiap proses pembelajaran.

Redesain kurikulum di sini bukan semata respons instan terhadap gelombang disrupsi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang dirancang untuk mengembalikan marwah pendidikan tinggi Islam sebagai penjaga nilai dan penuntun arah zaman. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak sekadar dibekali pengetahuan, tetapi diarahkan untuk menapaki lintasan studi yang selaras dengan tantangan kontemporer dan potensi masa depan. Inilah wajah baru kurikulum yang ingin diwujudkan: kontekstual dalam pendekatan, progresif dalam visi, dan bermakna dalam setiap capaian.

Empat gelombang disrupsi yang sedang melanda yakni kecerdasan buatan, gig economy, otomatisasi, dan digitalisasi; tidak hanya mengubah struktur industri dan wajah pekerjaan, tetapi juga menggerus usia keterampilan manusia secara dramatis. Dulu, sebuah keahlian mungkin relevan hingga satu dekade. Kini, banyak keterampilan teknis memiliki “masa kedaluwarsa” hanya dalam 3-5 tahun. Bahkan, World Economic Forum dalam The Future of Jobs Report 2023 menegaskan bahwa hampir separuh keterampilan yang ada saat ini akan berubah sebelum 2028. Ini artinya, perguruan tinggi tidak lagi bisa hanya mendidik untuk satu pekerjaan, tetapi berkewajiban membekali mahasiswa untuk pekerjaan-pekerjaan yang belum ada hari ini.

Generasi yang hidup di era disrupsi ini dituntut untuk mampu berinteraksi dengan machine learning dan sistem kecerdasan buatan, saat ini wajib karena bukan lagi urusan teknisi dan ilmuwan data saja. Mahasiswa dakwah, tafsir hadis, biologi, hingga ekonomi syariah pun akan bersentuhan dengan mesin yang mampu menganalisis teks, memprediksi perilaku konsumen, atau mengatur distribusi zakat secara otomatis. Mereka dituntut untuk tak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga co-thinker mitra kritis yang mampu menimbang, memfilter, dan memaknai hasil kerja algoritma dengan kesadaran etis dan nilai-nilai maqāṣid syarī‘ah.

Kondisi ini mendorong satu konsekuensi mendasar: masa depan hanya bisa dimenangkan oleh mereka yang bersedia terus belajar. Long life learning bukan sekadar jargon, tetapi kunci bertahan hidup dalam ekosistem kerja yang cair dan terus berevolusi. Kampus tidak bisa lagi menutup proses belajar dalam empat tahun studi sarjana, melainkan turut membentuk mentalitas pembelajar seumur hidup.

Lebih jauh, jenis pekerjaan di masa depan akan semakin bersifat personal, kontekstual, dan unik. Peran-peran seperti digital ritual designer, AI-enhanced religious counselor, atau eco-halal supply chain curator mungkin belum dikenal hari ini, namun peluangnya tengah tumbuh di tengah pergeseran makna profesi dan spiritualitas dalam masyarakat digital. Dunia kerja tidak lagi semata bersandar dengan ijazah, tapi oleh kapabilitas nyata yang melebur antara nalar, nilai, dan keterampilan adaptif.

Dengan kata lain, empat gelombang disrupsi ini tidak hanya menantang kecakapan teknis kita, tetapi juga mengguncang cara kita memahami apa arti menjadi “manusia yang relevan.” Dan di sinilah peran kurikulum menjadi genting: bukan hanya mempersiapkan tenaga kerja, tetapi membentuk manusia pembelajar yang peka terhadap zaman, jujur pada nilai, dan siap menyambut masa depan dengan lentur dan bermartabat.

Pentingnya Membangun Postur Kurikulum yang Adaptif

Merancang postur kurikulum adaptif berarti menata ulang pendidikan tinggi sebagai sistem yang hidup, terbuka, dan responsif terhadap dinamika zaman. Kurikulum dirancang agar memiliki daya lentur dan kepekaan dalam membaca sinyal perubahan mulai dari disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi, pergeseran sosial, hingga krisis ekologi dan menjadikannya pijakan untuk mengatur ulang arah pembelajaran. Dengan kerangka seperti itu, kurikulum akan mampu menjembatani dunia belajar dengan dunia kerja, serta menyatukan idealisme akademik dengan realitas sosial yang terus bergerak.

Ciri utama dari kurikulum adaptif terletak pada penguatan kompetensi generatif, yaitu kemampuan untuk terus bertumbuh dan menyesuaikan diri, bukan sekadar menguasai pengetahuan statis. Lulusan dituntut untuk berpikir kritis, mampu lintas disiplin, literat terhadap data, serta memiliki kemampuan belajar ulang (relearning). Kurikulum yang kuat bukanlah yang padat isi, tetapi yang mampu menghidupkan potensi mahasiswa agar sanggup berpindah peran dan tetap relevan dalam ekosistem kerja yang cair.

Struktur kurikulum adaptif juga ditopang oleh pendekatan yang modular dan fleksibel. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk memilih lintasan akademik yang sesuai dengan potensi dan visi masa depannya. Model ini menjauhkan kampus dari jebakan pendidikan yang seragam, dan sebaliknya, menciptakan ruang yang kontekstual, personal, dan bermakna. Salah satu langkah konkret yang sangat penting adalah memberikan ruang kepada mahasiswa untuk mengikuti program magang atau internship yang diakui sebagai bagian dari pembelajaran inti.

Mengacu Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023, setiap program studi terapan wajib menyediakan ruang magang minimal 20 SKS. UIN perlu meresponsnya dengan mengintegrasikan program PRIMA Magang yang disediakan Diktis Kemenag ke dalam kurikulum, agar mahasiswa tak hanya belajar di kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata sebagai bagian dari proses akademik.

Pada akhirnya, disrupsi bukan alasan untuk cemas, tetapi tawaran untuk memperbarui cara kita memaknai pendidikan. Dunia memang berubah, sering kali tanpa menunggu kita siap. Namun justru di situlah UIN ditantang untuk tidak sekadar menyesuaikan, tetapi memimpin arah perubahan. Jika kurikulum dirancang dengan jiwa yang peka dan pikiran yang terbuka, maka Insya Allah UIN akan tetap relevan bukan karena mengekor zaman, tetapi karena mampu menyalakan lentera nilai di tengah kabut zaman yang terus bergulir.

Di tengah ikhtiar seluruh program studi di UIN Jurai Siwo Lampung yang kini tengah berjibaku menyusun Kurikulum K-25 berbasis Outcome-Based Education (OBE), kita patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Mereka sedang membangun legacy dan menyiapkan tonggak baru dalam sejarah institusi. Di balik setiap rapat, diskusi, dan draf kurikulum, tersimpan semangat kolektif untuk menghadirkan wajah pendidikan tinggi Islam yang adaptif, relevan, dan berdampak. Mari terus menyalakan harapan dan meneguhkan keyakinan bahwa kerja-kerja sunyi ini akan melahirkan generasi yang bukan hanya siap menghadapi zaman, tetapi juga mampu menuntunnya dengan nilai, ilmu, dan keberanian moral dalam menata perubahan.

*) Kepala Pusat Pengembangan Karir dan Bisnis (Pusbangkanis)-UIN Jurai Siwo Lampung

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.