metrouniv.ac.id – 26/03/2026 – 6 Syawal 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Lebaran selalu datang dengan dua wajah yaitu kebahagiaan dan harapan. Ada pelukan hangat, tawa keluarga, dan aroma masakan khas yang menenangkan. Namun, di balik itu, terselip satu hal yang sering luput disadari yaitu munculnya beban psikologis dari obrolan-obrolan yang tampak sederhana, tetapi bisa menyentuh sisi terdalam seseorang. Pertanyaan seperti “kapan menikah?”, “sudah punya anak belum?”, atau “kerja di mana sekarang?”, untuk dosen, kapan S3, kapan profesor dan banyak pertanyaan lain yang sering dianggap biasa, padahal bagi sebagian orang, itu bukan sekadar pertanyaan melainkan tekanan yang mengusik suasana batinnya dan orang tidak tahu ikhtiar maksimal yang sudah diupayakan untuk meraih kondisi dan level kehidupan serta karir yang diimpikan.
Lebaran dan Ekspektasi Sosial yang Tak Terucap
Dalam perspektif psikologi sosial, manusia hidup dalam jaringan ekspektasi. Ada standar-standar tidak tertulis tentang “kesuksesan”: menikah di usia tertentu, memiliki pekerjaan mapan, punya anak, dan seterusnya. Lebaran, sebagai momen berkumpul, seringkali menjadi “panggung evaluasi sosial” yang halus namun terasa. “Sekarang kerja di mana?”
“Masih pilih-pilih calon pasangan ya…”, “Itu sudah professor, kok kamu belum”. Kalimat pertanyaan yang dianggap biasa, tapi bisa meninggalkan rasa tidak nyaman. Individu yang merasa “belum sesuai ekspektasi” rentan mengalami social comparison (perbandingan sosial), yang dalam psikologi dapat memicu kecemasan, rendah diri, bahkan stres. Allah SWT mengingatkan: “Janganlah kamu membanding-bandingkan apa yang telah Allah lebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32). Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda, dan membandingkan secara tidak bijak dapat melukai hati.
Luka Tak Terlihat: Ketika Pertanyaan Menjadi Tekanan
Tidak semua luka terlihat. Banyak orang tersenyum di hari Lebaran, tetapi menyimpan pergulatan batin. Ada yang belum menikah karena belum siap.
Ada yang belum punya anak karena sedang berjuang dalam diam.
Ada yang belum “sukses” karena masih berproses. Namun, semua. itu seringkali diringkas dalam satu pertanyaan yang terasa menghakimi. “Kapan nikah?”, “Doakan saja ya…” (tersenyum dalam hati: “andai mereka tahu…”). Dalam kajian psikologi, kondisi ini bisa memicu emotional discomfort dan self-doubt (keraguan diri). Jika terus berulang, bisa berdampak pada kesehatan mental jangka panjang. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini sangat relevan dalam konteks komunikasi saat lebaran, tidak semua yang ingin ditanyakan perlu diucapkan.
Perbandingan Sosial: Ketika Lebaran Terasa Seperti Kompetisi
Media sosial dan cerita keluarga seringkali memperkuat narasi “siapa lebih berhasil”. Tanpa disadari, Lebaran berubah dari momen silaturahmi menjadi ajang perbandingan. “Si A sudah punya rumah.” “Si B anaknya sudah dua.” “Kamu gimana?”. Padahal, dalam psikologi, setiap individu memiliki timeline kehidupan yang unik. Tidak ada standar waktu yang benar-benar sama. Perbandingan sosial yang berlebihan dapat menurunkan self-esteem (harga diri) dan memunculkan perasaan tidak cukup. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Ini menegaskan bahwa nilai manusia tidak diukur dari pencapaian duniawi semata, melainkan dari kualitas hati dan amal.
Etika Obrolan Lebaran: Menjaga Lisan, Menjaga Perasaan
Lebaran seharusnya menjadi ruang yang menenangkan, bukan menegangkan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menjaga etika dalam berkomunikasi. Bertanya boleh, tetapi perlu empati. Bercanda boleh, tetapi jangan melukai. “Sekarang sibuk apa?”
“Lagi fokus ngembangin diri dulu.” “MasyaAllah, semoga dimudahkan ya.” Kalimat sederhana, tapi terasa lebih hangat dan menghargai serta memotivasi. Dalam psikologi komunikasi, ini disebut sebagai supportive communication, komunikasi yang memberi dukungan, bukan tekanan. Allah Swt juga berfirman: “Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 83).
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Euforia Lebaran
Bagi individu yang sering menjadi “target dan sasaran pertanyaan demikian”, penting juga untuk menjaga kondisi batin. Beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu menyadari bahwa hidup adalah proses, bukan perlombaan; tidak mengambil semua pertanyaan secara personal; menyiapkan jawaban yang tenang dan tidak defensive; dan memberi ruang pada diri sendiri untuk beristirahat dari keramaian dan kebisingan hidup. “Capek juga ya ditanyain yang gitu-gitu terus…”. “Iya… tapi nggak apa-apa, kita jalani saja pelan-pelan, yakinlah Allah Swt akan mendengarkan doa dan ikhtiar kita.” Menerima diri adalah bagian penting dari kesehatan mental.
Lebaran yang Menguatkan, Bukan Melelahkan
Lebaran sejatinya adalah momen kembali ke fitrah, bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam relasi kemanusiaan. Fitrah itu lembut, penuh kasih, dan saling menguatkan. Bayangkan jika setiap obrolan lebaran diisi dengan doa, dukungan, dan empati. “Semoga kamu dimudahkan jalannya untuk mencapainya.” “Yang terbaik pasti datang di waktu yang tepat.” Kalimat seperti ini mungkin sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar bagi kesehatan mental seseorang.
Pada akhirnya, lebaran bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai sesuatu, tetapi siapa yang paling mampu menjaga hati, baik hati sendiri maupun hati orang lain. Karena bisa jadi, satu kalimat ringan yang kita ucapkan… menjadi beban berat yang dipikul orang lain. Maka, mari kita belajar satu hal sederhana di hari yang fitri ini yaitu menjaga lisan, menghargai proses, dan menghadirkan empati dalam setiap percakapan.
اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي أُمُورِي، وَبَلِّغْنِي أَحْلَامِي، وَارْزُقْنِي زَوْجًا صَالِحًا وَذُرِّيَّةً طَيِّبَةً، وَاجْعَلْ قَلْبِي صَابِرًا مُتَوَكِّلًا عَلَيْكَ، لَا يَتَأَثَّرُ بِكَلَامِ النَّاسِ، وَيَكْتَفِي بِرِضَاكَ.
Ya Allah, mudahkanlah segala urusanku, sampaikan aku pada cita-citaku, karuniakan aku pasangan yang saleh dan keturunan yang baik, serta jadikan hatiku sabar dan bertawakal kepada-Mu, tidak mudah terpengaruh oleh perkataan manusia, dan merasa cukup dengan ridha-Mu. Amien ya Allah yar abbal alamien.