Baca Novel itu Bagus Kok!

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 28/03/2026 – 8 Syawal 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)

We shouldn’t teach great books; we should teach a love of reading.
(B. F. Skinner)

Tidak jarang, novel dianggap barang eksklusif. Milik orang yang menggeluti bahasa dan sastra.  Milik mereka di komunitas seni. Penghuni rak sunyi di perpustakaan. Seakan hanya layak disentuh oleh mereka yang menggeluti dunia teori dan kajian estetika. Akibatnya, novel terasa jauh dari dunia praktis. Pesan di dalamnya dipandang suka tersirat sehingga tidak to the point. Muatannya sering berat.  Sehingga lebih cocok bertumbuh di ruang akademik semata.

To be honest, novel tidak sepenuhnya begitu. Novel  sejatinya populis. Normal dan manusiawi. Ia banyak berbicara tentang manusia. Manusia pada umumnya. Di dalamnya banyak pesan baik yang relevan untuk remaja, mahasiswa, pengajar, pegawai, ibu rumah tangga, pedagang, bahkan untuk siapa pun yang tidak punya latar pendidikan bahasa dan sastra.

Entah mengapa, banyak orang menggemari hidangan prasmanan daripada nasi kotak. Mungkin karena prasmanan menawarkan kebebasan. Yakni kebebasan untuk memilih sesuai selera, untuk menakar porsi sesuai kebutuhan, dan untuk menikmati ragam rasa dalam satu meja. Sementara itu, nasi kotak memang terasa praktis, teratur, dan efisien. Ia sudah dirancang presisi sejak awal. Dalam sajian menu yang sama, susunan yang sama, ruang pilihan menjadi lebih terbatas.

Entah mengapa, meskipun tidak sepenuhnya benar, novel itu seperti hidangan prasmanan. Di dalamnya ada menu bahasa, logika, etika, estetika, budaya, sejarah, spiritualitas, bahkan humor. Seorang pembaca mungkin membaca novel untuk menikmati cerita. Namun, disadari atau tidak, ia sedang belajar merangkai kata, menyusun nalar, mempertimbangkan layak dan tidak layaknya sesuatu, menyelami tradisi suatu masyarakat, menelusuri jejak zaman, dan sesekali menertawakan humor serta ironi.

Dan begitulah. Novel tidak menyuguhkan hanya satu jenis hidangan batin. Ia menawarkan banyak lapisan pelajaran untuk aneka kebutuhan pembacanya. Maybe that is why, novel sejatinya bukan milik segelintir orang. Karena ia seperti meja prasmanan yang panjang. Ia menampung dan menyuguhkan kekayaan rasa. Setiap pembaca dipersilakan datang, mengambil porsi seleranya, dan pulang dengan tingkat kepuasan individual yang tidak pernah sama.

Para sarjana seperti Carter dan Long (1991) yakin bahwa membaca novel berarti belajar tiga hal sekaligus: bahasa, budaya, pengembangan kepribadian (personal growth). Mungkin karena novel lebih dari sekedar cerita. Mungkin karena kata, frasa, kalimat, monolog, dan dialog di dalamnya adalah input bahasa yang otentik. Mungkin karena cara orang di dalam novel itu berbicara, berharap, berkelakar, berkonflik, bekerja, berdoa, mencinta, menggerutu, menghadapi masalah, hingga merespon peristiwa adalah perwujudan suatu kebudayaan. Mungkin karena penarikan makna dan perasaan mendapatkan pengalaman baru dari yang terbaca, adalah pemekaran individu. Thus, pembacaan novel menyajikan pembelajaran yang utuh. Yaitu, tentang bagaimana bahasa dipakai, bagaimana kebudayaan mewujud, dan bagaimana menyesuaikan diri dalam lapisan peristiwa.

Sarjana semacam Boscaljon dan Levinovitz (2018), bergerak lebih jauh. Ada, kata keduanya, kaitan erat antara novel dan agama. Banyak novel yang memiliki akar pada ajaran agama. Pelajaran spiritual mungkin mewujud, terutama melalui pesan tersirat dan halus, melalui novel. Sehingga, ajaran agama tidak hanya muncul dalam khutbah, ceramah, dan pengajian. Ia juga menyusup, utamanya secara tersirat, dalam pergulatan tokoh sebuah novel, dalam pilihan moralnya, dalam penderitaaan yang dimaknainya, dan dalam pertanyaannya tentang baik dan buruk. Novel adalah medium yang kuat untuk menyampaikan ajaran agama, tanpa nada menggurui, sehingga seringkali lebih membekas.

Fair enough, jika ada yang menyangsikan potensi novel dalam pembelajaran dan pengembangan diri. Meski membaca novel bisa mengembalikan apa yang kini kian tergerus: empati, pemikiran kritis, dan kreativitas. Novel seringkali membuat kita tinggal dalam kehidupan orang lain (baca tokoh), merasakan lukanya, mengenal harapan dan ketakutannya, serta  memahami pilihan dan keputusan yang dibuatnya. Empati lantas mekar. Novel nyaris tidak pernah memberikan jawaban instan yang siap pakai. Pembaca diajak untuk membaca yang tersirat (reading between the lines), menganalisis motif, dan menafsirkan makna. Critical thinking lalu berkembang. Novel kerap menghadirkan ragam kemungkinan. Teks yang sama hidup secara berbeda dalam imaji pembacanya. Menyebabkan respon yang kaya lagi tak sama persis. Dan barangkali itu definisi kreativitas yang paling konkrit.

Novel mungkin saja gagal menjadi sesuatu yang inklusif, yang diakses dan dibaca oleh mayoritas. Namun, bagi penggemarnya, ia tidak pernah gagal menciptakan kecintaan membaca. Ia adalah anak tangga untuk membangun kebiasaan membaca (reading habit). Sebuah kebiasaan yang mengantarkan pemiliknya pada buku-buku bagus (great books). Dan karena buku-buku bagus itu bermunculan dari waktu  ke waktu,  menumbuhkan kebiasaan membaca menjadi sangat urgen.

Syahdan,  Skinner terdengar bijak. Bahwa alih-alih mengajarkan isi dari buku-buku bagus itu,  bukankah sebaiknya mengajarkan kecintaan terhadap membaca? Dan novel adalah salah satu buku bagus itu. Ia memuat input bahasa, penalaran, moral, seni, kultur, history, ideologi, hingga tawa. Jadi, membaca novel itu bagus kok! Wallahu a’lam.

Bagi pendidik dan pengajar bahasa yang tertarik menggunakan novel atau  karya sastra dalam kegiatan pembelajaran, silakan mengunjungi:  https://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/3962/ . Tabiik.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.