metrouniv.ac.id – 14/01/2024 – 2 Rajab 1445 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Metro)
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; …”
(Q.S. Al Baqarah : 216)
Blessing in disguise adalah berkah yang tersamar. Sesuatu yang awalnya getir lalu berujung indah. Tema ini, konon, baik dibaca pada saat mencari hikmah sebuah peristiwa. Karena saat prahara melanda, manusia dihadapkan pada dua pilihan: terluka atau menjadi bijaksana. Di titik inilah, tema blessing in disguise berpeluang menyembuhkan luka. Kisah bertema blessing in disguise berikut disadur dari ceramah seorang ustad, di Masjid Al-Manar, Jurugentong, Yogyakarta, dua dekade silam. Semoga, kebaikan dari penceritaan ulang ini akan Allah alirkan bagi sang ustad.
Dahulu kala, hidup seorang Raja yang gemar sekali berburu. Setiap minggu, sang Raja memacu kuda, merambah hutan, merentangkan panah, dan mendapatkan binatang buruan. Setiap pergi berburu, sang Raja ditemani oleh Perdana Menteri yang setia dan pemberani. Pernah sang Raja hampir diterkam oleh Macan, dan sang Perdana Menteri menyelamatkannya. Saat sang Raja terseret arus sungai, sang Perdana Menteri menyelematkannya. Sang Raja begitu sayang kepada Perdana Menterinya, dan Perdana Menteri begitu setia kepada Sang Raja.
Namun no body is perfect, tak ada gading yang tak retak. People are perfectly imperfect. Tidak ada orang yang terlalu baik hingga tidak memiliki sisi buruk. Dan tak ada orang yang terlalu buruk sehingga tidak memiliki sisi baik. Semua orang mengalami lupa, alpa, lalai, ceroboh yang berujung pada kesalahan. Termasuk sang Perdana Menteri.
Di suatu hari yang tragis, sang Raja, Perdana Menteri, dan rombongan pergi berburu. Di tengah hutan, mereka melihat seekor kijang langka kesukaan sang Raja. Sang Raja menitahkan berpencar, dan mensabdakan agar kijang tersebut dibawa pulang ke istana, dead or alive, hidup atau mati. Ketika kijang tampak dalam jangkauan sang Perdana Menteri, Sang perdana Menteri pun merentangkan busur panahnya. Lalu melesatlah busur panah itu ke arah sang kijang. Nahas, untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihindari. Sasaran meleset, dan anak panah melesat menembus jempol kanan sang Raja. Karena panah itu beracun, tak ayal sang Raja lalu memotong jempolnya itu.
Raja marah, berang bukan kepalang. Dia memerintahkan pasukannya untuk menjebloskan pemilik busur panah, ke dalam penjara bawah tanah yang paling paling gelap dan dingin. Dan, lenyaplah segala kebaikan yang pernah diperbuat oleh perdana Menteri kepada sang Raja. Dalam keadaan marah, yang terlihat hanyalah sisi buruk manusia lainnya. Saat amarah membuncah, manusia kerap lupa kebaikan yang pernah diperbuat oleh orang lain.
Time flies. Hari berlalu, musim berganti dengan cepatnya. Sang Raja masih meneruskan hobi berburunya. Bersama pasukannya, sang Raja merambah hutan-hutan yang belum pernah mereka datangi. Sampailah suatu ketika, mereka memasuki hutan yang didiami oleh suku kanibal, suku yang suka memakan daging manusia. Dan mereka masuk ke dalam perangkap yang tak kuasa mereka lawan.
Raja dan pasukannya ditempatkan di dalam sebuah penjara yang gelap, dingin, dan mencekam. Setiap hari, satu persatu pasukan Sang Raja, diganyang untuk dimakan dagingnya. Setiap hari, hingga hanya tersisa sang Raja sendiri. Di hari terakhir, tibalah giliran sang Raja untuk dipotong dan dimakan dagingnya. Saat akan dipotong, kepala suku kanibal menggelengkan kepala. Ia memerintahkan anak buahnya untuk melepas sang Raja karena atas nama tradisi, mereka tidak memotong atau memakan manusia yang memiliki cacat tubuh. Sang Raja selamat karena ia tidak memiliki jempol.
Lalu, dengan penuh suka cita, sang Raja berlari ke Istana. Sesampainya di istana, ia langsung menemui mantan perdana menterinya yang saat itu masih mendekam di penjara bawah tanah. Penuh haru, ia memeluk Sang perdana menteri dan menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Kepada sang perdana menteri, Sang Raja berkata: “You are my live savior, engkau adalah penyelamat hidupku. Hari ini engkau telah menyelamatkan selembar nyawa yang aku miliki. Jika bukan karena jempolku yang hilang ini, aku pasti telah menjadi santapan suku kanibal. Terima kasih karena telah menjadi penyebab hilangnya jempolku ini, sehingga terselamatkanlah nyawaku hari ini.”
Sang Perdana Menteri diam seribu bahasa. Suasana menjadi hening dan haru. Lalu tiba-tiba sang Perdana Menteri menangis dan menjerit: “Oh Paduka Raja yang Mulia, hambalah yang harus berterima kasih kepada Paduka. Terima kasih karena telah menjebloskan hamba ke dalam penjara yang dingin ini. Andai saja Paduka tidak memenjarakan hamba, pastilah hamba akan pergi berburu bersama paduka ke hutan suku kanibal itu. Dan jika hamba ikut, pastilah hari ini hamba hanya tinggal nama. Terima kasih Paduka. Terima kasih atas penjara yang mencekam ini.”
“Thank you for saving the day.” Balas sang Raja.
Posting : ss_humas