Di Negeri Orang Buta

bg dashboard HD

 “Khoirunnaas man ‘arafa qodrahu” (Pribahasa Arab)
“In the land of the blind, the one-eyed man is king” (Pribahasa Inggris)

metrouniv.ac.id – 24/12/2025 – 4 Rajab1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Jurai Siwo Lampung)

Pada suatu halaqoh, ia mendengar satu kalimat bijak (wisdom): khoirunnaas man ‘arafa qodrahu. Bahwa manusia terbaik adalah mereka yang sadar akan kadarnya. Kadar adalah semacam kapasitas, kemampuan, kompetensi, keterbatasan diri, atau daya jangkau. Menurut wisdom ini, mengetahui kadar-diri adalah jembatan untuk menemukan versi-terbaik diri sediri. Thus, mereka yang secara diam-diam mau menilai kemampuan dirinya secara jujur, akan menemukan kadarnya. Mereka yang tanpa publisitas, mampu mengukur kompetensi diri secara objektif, akan mengetahui kadarnya. Singkatnya, mereka yang mau, tanpa drama, melakukan self-evaluation, akan menemukan versi terbaik dirinya. Ending-nya, mereka akan mampu menemukan posisi dan waktu yang tepat guna memaksimalkan potensi diri. Mereka akhirnya bisa menyusun jawab terhadap  how far you can go. Tentang seberapa jauh mereka bisa pergi; seberapa tinggi mereka bisa melompat; sejauh mana kapasitas maksimal mereka; atau sejauh apa mereka bisa berdampak. Ah, begitulah kira-kira yang bisa ia simpulkan dari penjelasan di halaqoh waktu itu.

Konon, kadar manusia diibaratkan seperti jemari yang mereka punya. Jemari yang berbeda bentuknya. Tidak sama tingginya. Bervariasi pula fungsinya. Jempol adalah jempol, seperti kelingking adalah kelingking. Seperti telunjuk yang menjadi maksimal bila berada pada posisinya. Sedangkan, jemari-jemari yang out of position, yang keluar dari kadarnya, akan menjadi tidak optimal. Begitulah kira-kira analoginya. Masih, analogi adalah cara mujarab untuk mengurai kompleksitas dan memperkuat retensi. Pengibaratan kadar dengan jemari tangan! Cukup mudah dipahami dan tak mudah hilang dari ingatan.

Waktu pun beringsut maju. Tokoh kita terlihat berada di sebuah perpustakaan yang bersahaja. Sebuah buku translation memberitahunya bahwa frasa the blind berarti ‘orang-orang buta’. Di halaman yang sama, tertera contoh kalimat yang tampak terderivasi dari sebuah pribahasa: In the land of the blind, the one-eyed man is king. Artinya, di negeri orang-orang buta, orang bermata satu adalah raja. Maknanya, di lingkungan orang yang buta huruf, orang yang tidak pandai membaca sekalipun akan akan menjadi yang terpintar; di pasar yang tanpa kompetitor,  satu perusahaan akan mendominasi meski tanpa produk yang bagus; seorang yang bisa mengoperasikan komputer ketika semua koleganya tidak mampu, akan dianggap sebagai genius digital; dan banyak makna lainnya yang bisa diunduh dan dikontekstualisasi dari pribahasa ini.

Tokoh kita lalu terlihat mengernyitkan dahi. Tampak bergumam dalam hati. Terpantau berkata pada diri sendiri, “Menjadi yang terbaik itu relatif ternyata. Penguasa terbaik, orang terbaik, produk terbaik, jenius terbaik, dan sebagainya, tidak mesti lahir dari kesempurnaan. Karena seringkali, label terbaik lahir dari distingsi kompetensi dan ketiadaan kompetitor sepadan. Jika aku bisa melakukan apa yang mayoritas orang di sekitarku belum bisa melakukannya, aku akan menjadi yang terbaik. Tidak perlu menunggu sempurna atau benar-benar kompeten. Just be bold and claim your place among the best. Aku hanya perlu memberanikan diri untuk melangkah maju, dan mengambil tempat yang layak di barisan para terhebat.”

Syahdan, orang-orang hanya perlu mengetahui kompetensi diri. Lalu mencari ruang dan waktu yang tepat untuk berpijar. Ya, ruang dan waktu yang tepat adalah prasyarat utama (main prerequisite). Karena raja yang bermata-satu di negeri orang buta, akan menjadi bukan siapa-siapa di negeri yang nir-tunanetra. Karena produk yang dominan dalam ketiadaan kompetitor, akan menjadi biasa saja di tengah gempuran pasar bebas. Karena kelangkaan akan mengundang takjub. Karena frekuensi yang tinggi akan mengurangi ketakjuban itu sendiri. Dan karena untuk mengetahui titik untuk berpijar menjadi yang terbaik, manusia perlu kembali menggali esensi pepatah klasik itu: sebaik-baiknya manusia adalah orang yang mengetahui kapasitas (atau keterbatasan) dirinya.

Jikalah orang yang ‘bermata satu’, dalam makna metaforis loh ya, masih bisa bersinar di negeri orang buta, maka orang yang memiliki keterbasan juga bisa cemerlang ketika memunyai keterampilan atau kompetensi yang distingtif. So for example, if we graduate from an English education department, and then work in a place where very few people speak English well, we will be among the best and be highly valued. Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.