metrouniv.ac.id – 02/06/2023 – 17 Dzulqa’dah 1444 H
Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Pengajar Bahasa Inggris di IAIN Metro)
“Ra’yuna shawab yahtamilu al khata’, wa ra’yu ghairina khata’
yahtamilu al shawab.” (Imam Syafi’i)
Akademisi yang pernah menulis jurnal dalam Bahasa Inggris, tampaknya tahu hedging itu apa. Yaitu, teknik ‘memperhalus’ sebuah klaim akademik. Lumrahnya, peneliti akan menuliskan temuan (findings) dan simpulan (conclusion) secara cermat. Secara kuat dan solid, namun tidak mengarah pada absolutisme. Di titik inilah, keterampilan hedging itu menjadi niscaya.
Hedging lebih dari sekedar teknik. Ia adalah nilai-nilai yang patut dijunjung oleh para akademisi. Bahwa akademisi sebaiknya tidak radikal dalam menyampaikan kritik. Tidak terlalu ‘pede’ (overconfident) dalam menyusun kesimpulan. Terbuka terhadap aspek multifaktorial pada sebuah fenomena. Sehingga, akademisi tidak akan mendahulukan pandangan personal di atas pendapat profesional. Tidak menempatkan sentimen di atas argumen yang disusunnya. Tidak menggunakan klaim akademik untuk mempertebal egonya.
Hedging adalah sikap hati-hati (cautious) dalam membuat sebuah klaim. Tulis saja sebuah contoh kesimpulan: ‘Mahasiswa yang memiliki motivasi belajar rendah akan memiliki prestasi akademik yang rendah’. Hedging tidak demikian. Hedging akan mengatakan bahwa betul motivasi belajar adalah sebuah variabel penting. Namun ia bukan satu-satunya faktor yang menentukan prestasi akademik. Hedging akan menyarankan kalimat yang lebih ‘halus’, ‘multifaktorial’, dan ‘penuh kehati-hatian’. Menggunakan hedging, kesimpulan di atas mungkin akan menjadi: ‘Mahasiswa yang memiliki motivasi belajar rendah cenderung memiliki prestasi akademik yang rendah’. Iya, kata ‘cenderung’ adalah penanda hedging.
Dalam khazanah Bahasa Inggris, akan ditemukan lebih banyak lagi pemarkah hedging. Ada pemarkah berupa kata kerja (verbs) seperti tend (cenderung), seem (tampaknya), dan appear (kelihatannya). Ada penanda berupa kata keterangan semacam perhaps (mungkin), possibly (bisa jadi), dan apparently (tampaknya). Ada pemarkah berupa modalitas (modal auxiliaries) semacam could (dapat), might (bisa), dan may (boleh). Masih banyak lagi pemarkah lainnya. Yang semuanya seolah mencegah para akademisi untuk berkata: pasti seperti ini; wajib begini tidak mungkin begitu; harus A tidak boleh B.
Hedging bisa menjadi sebuah teknik yang akan mengingatkan para akademisi tentang adagium adab di atas ilmu (al adabu fauqol‘ilmi). Ilmu yang dihasilkan melalui penelitian boleh jadi valid dan solid. Namun manakala ilmu itu diwartakan kepada publik, harus ada etika yang menyiratkan sikap terbuka terhadap pandangan berbeda. Perlu ada kerendahan hati peneliti untuk tidak terlalu ‘pede’ karena bisa mengarah pada sikap absolutisme yang mengaburkan sekat antara pendapat profesional dan pandangan personal. Juga memburamkan batas antara argumen dan sentimen.
Lagi, hedging bisa menjadi alat kontrol dalam upaya menempatkan etika di atas pengetahuan. Agar akademisi tidak berpikir hanya pandangannya saja yang benar. Agar akademisi dapat secara jernih mendekati kebenaran. Alih-alih, membenarkan apa yang dianggapnya paling benar.
Kini, jika kita telah berulang submit jurnal internasional namun belum jua diterima, cobalah cek aspek hedging. Iya hedging penting. Bukan hanya sebagai sebuah teknik penulisan. Namun juga sebagai pengingat bahwa sikap dan etika keilmuan bisa jadi lebih penting daripada ilmu itu sendiri. Dan lagi mungkin, para ilmuan sejati itu jarang memutlakkan pendapatnya, apalagi berujar kasar, karena mereka memahami hubungan antara hedging, ilmu, dan adab.
Syahdan, hedging sejatinya bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keilmuan Islam. Jikalah hedging adalah sebuah sikap, ia telah bertahta dengan sangat kemilau pada Imam Syafi’i sejak beliau berkalam, yang terjemahannya kurang lebih adalah: Pendapat kami benar, tapi mengandung kemungkinan salah. Pendapat selain kami salah, tapi bisa jadi benar.” Begitu Indah! Semoga Allah swt memberkati Muhammad bin Idris Asy Syafi’i dan para akademisi Muslim yang meneladani beliau. (Publish :ss_humas)