HOMO LUDENS

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 07/01/2022

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Homoludens adalah sebuah konsep yang memahami manusia sebagai makhluk pemain yang suka memainkan permainan. Homoludens sendiri merupakan konsep yang muncul atau ditemukan dalam kebudayaan. Setiap kebudayaan memperlihatkan karakter manusia sebagai makhluk yang suka bermain. Semula secara etimologi, permainan itu diartikan sebatas aktivitas manusia yang tidak sungguh-sungguh, seperti namanya permainan yang artinya main-main untuk kesenangan, hanya iseng dan tidak serius. Namun setelah Johan Hauzinga, seorang budayawan Belanda, menulis buku pada tahun 1938 dengan berjudul Homoludens, a Study of Play Elemen in Culture, bermain itu tidak bisa dipandang sebagai iseng belaka.

Sebagian kita mungkin masih ingat masa-masa kecil dahulu yang sangat akrab dengan permainan tradisional sebagai cara untuk mencari kesenangan dan kegembiraan serta sekedar iseng untuk mengisi waktu yang dapat membunuh kebosanan. Anak-anak generasi dulu bermain bukan hanya untuk kegembiraan belaka, namun bermain juga dapat untuk menghibur diri dari derita akibat kemiskinan dan lari untuk sementara dari segala penderitaan hidup. Alasan lain bermain dan menciptakan permainan adalah karena terbatasnya tempat hiburan dan sarana yang bisa digunakan sebagai sumber hiburan. Yang pasti baik sedang senang atau menderita bermain dan kesukaan terhadap permainan adalah naluri manusia yang sudah diberikan Tuhan kepada setiap hambanya.

Hauzinga menolak anggapan bahwa bermain sekedar kegiatan pengisi waktu luang yang terkesan iseng-iseng belaka. Menurutnya bermain itu tidak kalah pentingnya dengan kegiatan manusia lainnya, seperti berfikir dan bekerja. Bahkan bermain itu merupakan gejala alam yang mendahului dan sekaligus menjiwai kebudayaan. Intinya bermain bagi manusia adalah merupakan salah satu elemen kebudayaan. Di masyarakat manapun dan kapanpun akan ditemukan tradisi bermain dan permainan.

Di masa  modern naluri manusia yang suka bermain itu telah menghasilkan bentuk dan model permainan yang tidak hanya sekedar keisengan, namun model dan bentuk permainan itu distandarisasi dengan aturan dan ketentuan yang ketat sedemikian rupa. Manusia memproduksi terus bentuk-bentuk permainan baru atau merevitalisasi bentuk-bentuk permainan lama dan membuat aturannya agar bisa dimainkan oleh yang lainnya sebagai makhluk yang sama-sama suka bermain. Bermain berubah menjadi sport yaitu aktivitas olah raga untuk kesehatan jasmani dan rohani. Dalam permainan yang namanya olah raga nilai-nilai sportivitas dan prinsip-prinsip fair play dipegang teguh dan detegakkan di atas pondasi yang bernama rule game, aturan main.

Demikianlah manusia sebagai homo ludens menjadikan bermain yang awal mulanya sebagai kesenangan dan pencarian terhadap kegembiraan berubah menjadi permainan dalam arti sport yang terkadang menjadi sangat serius karena terkungkung dalam standarisasi aturan permainan. Tentu tidak ada yang salah karena bermain sebagai kebudayaan memang selalu berkembang, namun jika manusia terlalu ketat dan serius dengan rule game lama kelamaan ia akan kehilangan esensi bermain sebagai fitrah mencari kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan.

Lihatlah dalam beberapa hari kemarin ketika timnas sepakbola kita berlaga dalam pesta sepakbola negara-negara Asia Tenggara, Piala AFF 2020, yang penyelenggaraannya di 2021 dan berakhirnya di 2022. Para pencinta sepakbola, semua larut dalam kegembiraan karena timnas bisa mencapai babak final, walaupun akhirnya harus puas dalam posisi runer up. Kebahagiaan bukan hanya dirasakan oleh para pemain timnas, tetapi juga melingkupi seluruh pencinta olah raga bola sepak ini. Kebahagiaanya bukan hanya karena berada atau terlibat dalam permainan, namun juga karena kebanggaan yang bercampur dengan harga diri sebagai sebuah bangsa. Bayangkan, jika seandainya timnas sudah keok sejak babak penyisihan, ceritanya bisa berbeda. Kegembiraan itu pasti tidak ada, berganti dengan caci maki, frustasi dan olok-olok yang tiada akhir.

Pesan moralnya, permainan tetaplah permainan, ada keisengan, ada humor, ada kalah dan menang dan yang paling penting ada kegembiraan dan kesenangan. Janganlah terlalu gembira jika memenangkan permainan dan jangan larut dalam kesedihan berkepanjangan jika mengalami kekalahan. Permainan bukanlah kehidupa nyata yang dibawa ke gelanggang, namun hanya sekedar keisengan yang digunakan untuk mengibur diri dari kepenatan kehidupan nyata. Karena itu jangan berusaha membalik, kehidupan nyata menjadi permainan dan permainan menjadi kenyataan.

Rasulullah panutan kita, juga senang bermain. Beliau bermain dengan cucu-cucunya. Suatu hari Beliau bermain dan bercanda dengan cucunya Hasan dan Husein. Beliau gendong cucunya dan dinaikkan di atas punggungnya sambil berjalan-jalan. Rasulullah SAW adalah sosok ayah yang penyayang yang memberi kehangatan cinta kasih kepada anak-anaknya. Nabi Muhammad SAW kerap mencium cucunya, Hasan. ketika hal itu disaksikan oleh al-Aqra’ bin Haabis at-Tamimy, dia langsung berkomentar, “Aku memiliki sepuluh anak. Tak satupun yang pernah kucium.” Rasulullah lantas mengalihkan pandangannya kepada Aqra’, lalu berkata, “Orang yang tidak mengasihi tidak dikasihi.” (HR Bukhari).

Nabi SAW juga tidak segan untuk menggendong anak dan cucunya. Hal itu seperti dikisahkan Abdullah bin Jafar, “Rasulullah menjemput kami (yakni Jafar dan Hasan atau Husein) ketika pulang. Kemudian beliau menggendong salah satu dari kami di punggung sedang yang lain beliau bopong di dada sampai kami memasuki Madinah.” (HR. Muslim). Mengajak bermain atau bercanda dengan anak-anak tidak akan mengurangi wibawa sebagai orang tua.

Rasulullah tidak merasa malu saat dia melakukan hal demikian di depan orang banyak. Seperti diceritakan Ya’la bin Murrah, saat mereka pergi bersama Rasulullah untuk menghadiri undangan makan bersama, Rasulullah melihat Hasan sedang bermain di jalan. Beliau lantas mempercepat jalan mendahului rombongan, lalu merentangkan kedua tangannya. Hasan berlarian ke sana kemari. Rasulullah mencandainya lalu merangkulnya. Rasulullah bermain dengan cucu-cunya bukan sekedar mencari kegembiraan tetapi juga untuk mencurahkan kasih sayang.

Mari Bermain. Jangan serius terus, nanti cepat tua kata orang. Namun bermainlah untuk kasih sayang, menanamkan jiwa sportivitas dan tentu saja untuk kegembiraan. Wallahu a’lam bishawab. (mh.06.01.22).

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.