metrouniv.ac.id – 25/03/2026 – 5 Syawal 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Lebaran bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah ruang batin, tempat manusia menata ulang pikir dan laku dirinya. Di antara berbagai simbol yang hadir, ketupat menjadi salah satu yang paling sederhana namun sarat akan makna. Anyaman janur kelapa yang membungkus nasi itu seakan menyimpan pesan mendalam tentang identitas diri, kejujuran, dan proses menjadi manusia yang kamil dengan penuh kemuliaan.
Anyaman Diri: Ketika Jiwa Tak Selalu Sederhana
Ketupat terbuat dari janur yang dianyam. Tidak lurus, tidak instan, tetapi saling silang dan terikat serta saling menguatkan. Dalam perspektif psikologi, ini mencerminkan realitas diri manusia yang kompleks. Pikiran, perasaan, pengalaman masa lalu, dan nilai-nilai hidup saling berkelindan membentuk siapa kita hari ini. Seringkali kita ingin menjadi “sederhana dan apa adanya”, padahal jiwa kita penuh simpul kemisteriusan cita dan cinta. “Kadang saya bingung, kenapa hati ini terasa ruwet dan adasaja yang mengusik,” ujar seseorang. “Mungkin karena hidup memang seperti anyaman ketupat,” jawab sohibnya, “ketupat itu berliku dan tidak lurus, tapi tetap bisa indah kalau disusun dengan sabar dan penuh ikhtiar.” Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam proses yang bertahap dan penuh dinamika:“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4). Kesempurnaan manusia bukan berarti tanpa kerumitan, tetapi kemampuan masing-masing diri untuk mengelola kerumitan itu menjadi harmoni dalam Langkah kehidupannya.
Isi yang Putih: Simbol Kejujuran dan Kesucian
Ketika ketupat dibelah, isinya putih bersih. Ketupat dimaknai sebagai simbol “laku papat” yaitu (mengaku salah, memohon ampun, saling memaafkan, dan kembali suci). Secara psikologis, ini berkaitan dengan proses self-disclosure dan kejujuran diri. Banyak orang tampak “rapi” di luar, tetapi menyimpan luka, kesalahan, dan penyesalan di dalam. Lebaran menjadi momen untuk membuka itu semua.“Maaf ya kalau selama ini aku banyak salah,” ucap seseorang kepada bestinya. “Aku juga… ternyata memendam rasa salah itu lebih capek daripada mengakui,” jawab yang lain sambil tersenyum. Dalam Islam, keberanian untuk jujur dan meminta maaf adalah kekuatan, bukan kelemahan. Rasulullah ﷺ bersabda:“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi). Kejujuran pada diri sendiri adalah pintu awal kesehatan mental. Tanpa itu, seseorang akan terus hidup dalam tekanan batin dan rasa bersalah yang terus menggangu Kesehatan mentalnya.
Janur yang Mengikat: Relasi dan Kesehatan Mental
Anyaman ketupat tidak akan terbentuk tanpa keterikatan antar helai janur. Ini mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kesehatan mental tidak hanya ditentukan oleh kondisi internal, tetapi juga kualitas hubungan dengan orang lain. Silaturahmi di hari Lebaran bukan sekadar tradisi, melainkan kebutuhan psikologis. Ia menghadirkan rasa diterima, dimiliki, dan dicintai. Allah SWT berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi.” (QS. An-Nisa: 1). Dalam hadits juga disebutkan: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Secara psikologis, silaturahmi memperkuat “emotional support system” yang sangat penting untuk menjaga stabilitas mental. “Ternyata pulang kampung itu bukan soal tempat dan kesempatan, ya…”. “Iya, tapi soal rasa diri kita diterima dengan tulus oleh keluarga dengan segala kekurangan dan kelebihan diri kita.”
Ketupat yang Mulai Ditinggalkan: Kehilangan Makna dalam Modernitas
Di tengah perubahan zaman, budaya membuat ketupat perlahan mulai ditinggalkan. Banyak keluarga kini memilih membeli ketupat jadi, bahkan menggantinya dengan makanan instan yang lebih praktis. Memang tidak ada yang salah dengan kemudahan. Namun, ada proses yang hilang. Membuat ketupat sejatinya bukan sekadar aktivitas dapur. Ia adalah ruang interaksi, pembelajaran, dan pewarisan nilai. Anak-anak belajar dari orang tua, tangan-tangan saling membantu, dan percakapan hangat mengalir tanpa terasa. “Sekarang lebih praktis beli saja, ya?”. “Iya… tapi rasanya beda, puas kalua buatan sendiri.” Dalam perspektif psikologi, hilangnya proses ini berarti berkurangnya “meaningful engagement” yaitu keterlibatan bermakna yang justru penting bagi kesehatan mental. Aktivitas bersama seperti menganyam ketupat seringkali menjadi sumber kebahagiaan yang original. Lebih dari itu, kita juga kehilangan simbol refleksi. Ketika tidak lagi menganyam, kita mungkin juga semakin jarang “menganyam diri” yaitu merenung, memperbaiki, dan menyusun ulang makna hidup kita.
Ketupat dan Identitas Diri: Menjadi Utuh di Tengah Ketidaksempurnaan
Ketupat mengajarkan bahwa identitas diri bukan sesuatu yang statis. Ia dibentuk dari proses panjang dari luka, kesalahan, pembelajaran, hingga penerimaan. Banyak orang merasa kehilangan jati diri karena terlalu fokus menjadi “sempurna”. Padahal, justru dalam menerima ketidaksempurnaan itulah seseorang menemukan keutuhan dirinya. Lebaran hadir sebagai momen refleksi: siapa kita sebelum Ramadan, dan siapa kita setelahnya? Allah SWT berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10). Proses menyucikan jiwa tidak instan. Ia seperti menganyam ketupat yang perlu kesabaran, ketelitian, dan kesadaran diri.
Menutup Anyaman, Membuka Makna
Mari kita mafuhni bahwa ketupat mungkin hanya makanan sederhana, namun di balik itu, ia adalah metafora kehidupan yaitu tentang kerumitan yang bisa menjadi keindahan, tentang isi yang harus dijaga tetap bersih, dan tentang pentingnya keterhubungan dengan sesama. Kini, ketika budaya membuat ketupat mulai memudar, tantangannya adalah bagaimana menjaga maknanya tetap hidup. “Jadi, ketupat itu bukan cuma buat dimakan?”.“Iya… tapi buat diingat makna filosofinya. Bahwa hidup ini perlu dianyam dengan sabar, dan hati perlu dibersihkan dengan jujur.” Lebaran bukan sekadar kembali ke kampung halaman, tetapi kembali kepada diri sendiri. Pada akhirnya, kesehatan mental dalam perspektif Islam tidak hanya tentang bebas dari gangguan, tetapi tentang menemukan makna, menerima diri, dan membangun hubungan yang sehat dengan diri sendiri, sesama manusia, dan tentu saja dengan Allah Swt.
اللَّهُمَّ انْسُجْ قَلْبِي بِنُورِ الْإِيمَانِ، وَزَيِّنْ نَفْسِي بِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ، وَاجْعَلْنِي مِمَّنْ تُحِبُّهُمْ أُسَرُهُمْ وَيَأْلَفُهُمْ أَصْدِقَاؤُهُمْ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي مِنَ الْخَطَايَا، وَاجْمَعْنِي مَعَ أَحِبَّتِي عَلَى الْخَيْرِ وَالْمَوَدَّةِ، وَارْضَ عَنِّي يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا، وَانْسُجْ حَيَاتَنَا بِرَحْمَتِكَ وَرِضَاكَ.
Ya Allah, anyamlah hatiku dengan cahaya iman, hiasilah diriku dengan akhlak yang indah, dan jadikan aku pribadi yang dicintai keluarga serta disenangi sahabat.
Ya Allah, sucikan aku dari kesalahan, satukan aku dengan orang-orang tercinta dalam kebaikan dan kasih sayang, serta ridhailah aku, wahai Tuhan seluruh alam.
Wahai Tuhan kami, terimalah amal kami, dan anyamlah hidup kami dengan rahmat dan ridha-Mu. Amien ya Allah ya mujibassalin.