metrouniv.ac.id – 23/03/2023 _ 1 Ramadhan 1444 H
Moelki Fahmi Ardliansyah, M.H. (Dosen Ilmu Falak IAIN Metro)
Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Syahru Shiyam
Memasuki bulan suci Ramadhan, tidak lengkap rasanya apabila tidak memiliki jadwal imsakiyah.
Lebih dari itu, kita harus mengenal dan memahami apa itu jadwal imsakiyah.
Mengenal Jadwal Imsakiyah
Jadwal imsakiyah memuat waktu penanda akan dimulainya puasa (imsak) serta dilengkapi dengan waktu-waktu salat selama bulan Ramadhan.
Waktu imsak tidak dijelaskan ketentuannya dalam syariat. Namun, waktu imsak sangat berguna sebagai penanda akan dimulainya puasa. Sehingga tidak mendadak apabila sedang melaksanakan makan sahur.
Hal yang perlu diperhatikan adalah : (1) Bahwa waktu imsak bukanlah awal untuk puasa, yang berarti tidak boleh makan sahur, namun sebagai penanda akan dimulainya puasa. Sehingga masih ada beberapa saat untuk menyelesaikan makan sahur.
(2) Andaipun demikian, bukan berarti waktu imsak diabaikan atau bahkan dipahami mulainya puasa ketika waktu adzan subuh. Karena, waktu subuh yang ada sesungguhnya telah ditambahkan ihtiyath 2-3 menit, dimana ihtiyath tersebut untuk memberlakukan jadwal dalam cakupan satu daerah. Oleh karenanya, boleh jadi subuh sudah masuk sebelum waktu tersebut.
Waktu imsak dirumuskan dari Hadis yang menjelaskan bahwa jarak Nabi antara makan Sahur dan Adzan subuh kira-kira bacaan 50 ayat Al Quran. Dari hal tersebut, kemudian para ahli falak memformulasikan waktu imsak adalah 10 menit sebelum waktu subuh.
Macam Versi Jadwal Imsakiyah
Kini banyak beredar jadwal imsakiyah dengan berbagai macam versi. Mulai dari yang dikeluarkan Pemerintah, ormas, kampus bahkan individu
Berbedanya jadwal tersebut dipengaruhi beberapa hal. Setidaknya ada 4 hal yang kami temui. Pertama, Berbedanya kriteria yang digunakan. Misal untuk subuh, ketinggian Matahari ada yang menggunakan -20 derajat ada yang menggunakan -18 derajat.
Kedua, Berbeda dalam mengambil koordinat yang dijadikan markaz perhitungan. Ketiga, Waktu ihtiyath yang diberlakukan berbeda-beda, ada yang menggunakan 2 menit dan ada yang 3 menit. Keempat, Keberlakuan jadwal yang berbeda.
Menyusun Jadwal Imsakiyah berbasis Astronomis, Wilayatul Hukmi, dan Kemaslahatan
Sudah selayaknya jadwal imsakiyah yang beredar hasilnya sama, sehingga tidak membingungkan masyarakat. Untuk kemaslahatan perlu disepakati bersama untuk menggunakan ketentuan yang sama baik dari sisi astronomi maupun keberlakuannya.
Pemerintah dalam hal ini Kemenag RI telah mempunyai rumusan baku mengenai perhitungan waktu salat/imsakiyah. Bahkan memiliki hasil riset yang menyatakan bahwa ketinggian Matahari waktu subuh sudah tepat menggunakan -20 derajat. Sehingga jadwal imsakiyah dihitung berdasarkan kriteria tersebut.
Selain itu perlu memperhatikan keberlakuan jadwal untuk satu daerah kabupaten/kota. Dalam hal ini, perhitungan jadwal imsakiyah mengambil titik koordinat tengah (centroid) kabupaten/kota untuk basis perhitungannya. Sehingga bisa diberlakukan untuk satu kabupaten/kota, tanpa harus menghitung atau konversi waktu masing-masing kecamatan.
Keberlakuan jadwal untuk satu kabupaten/kota sangat relevan dan masih tercover dalam waktu ihtiyath 2-3 menit. Apalagi dihitung berdasarkan koordinat centroid.
Dengan kriteria dan ketentuan yang sama, dimana jadwal imsakiyah dihitung menggunakan koordinat centroid dan diberlakukan untuk wilayatul hukmi satu kabupaten/kota. Maka hal ini dapat menciptakan kenyamanan dan kemaslahatan di masyarakat. Karena masyarakat akan memperoleh info jadwal yang sama meskipun yang mengeluarkan berbeda-beda.
Namun demikian, realita yang ada jadwal imsakiyah yang kita temui masih berbeda-beda. Sehingga kita perlu cermat dalam membaca dan menyikapi ragam versi jadwal imsakiyah.
Wallahu a’lam bis shawab