Menuju Mudik Spiritual

57WhatsApp-Image-2021-05-06-at-13.26.15

Dr. Mukhtar
Hadi, M.Si.
(Direktur Program Pascasarjana IAIN Metro)
 

Mudik untuk
pulang kampung atau pulang di tanah kelahiran adalah “ritual” yang selalu kita
temui setiap tahun menjelang hari raya idul fitri. Di saat mudik seperti inilah
masyarakat kita disibukkan dengan segala persiapan pulang kampung tersebut.
Pemerintah sibuk menyiapkan infrastruktur jalan dan transportasi untuk memperlancar
perjalanan para pemudik dan aparat keamanan disibukkan pula untuk melaksanakan
operasi ketupat dan pengamanan lalu lintas. Semua dilakukan agar “ritual”
pulang kampung masyarakat berjalan lancar, aman sentosa sampai  tujuan dengan selamat.

Lebaran
tahun ini agak berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Pasalnya pemerintah
melarang masyarakat untuk mudik demi pencegahan penularan covid-19. Sejak
tanggal 6 Mei hingga 17 Mei 2020 semua aktivitas mudik dilarang. Jalur-jalur
mudik diberikan sekat dan dicegat, kalau tidak memenuhi persyaratan yang
diperbolehkan, aparat akan menyuruh putar balik. Tentu hal ini harus dipahami
oleh semua pihak karena pandemic covid-19 belum berakhir dan berdasar
pengalaman yang sudah, kegiatan-kegiatan kerumunan yang disebabkan oleh
kegiatan keagamaan berpotensi menyumbang penularan covid-19. Pemerintah belajar
dari negara India yang mengalami Tsunami gelombang kedua covid-19 pasca
pelonggaran kegiatan keagamaan di sana.

Walhasil,
intinya mudik tahun ini dilarang. Namun demikian masih ada saja yang berusaha
kucing-kucingan dengan aparat dan satgas covid-19. Beberapa hal dilakukan,
diantaranya dilakukan dengan cara mencuri start mudik terlebih dahulu sebelum
masa pelarangan. Ada yang memaksa mudik dengan melewati jalan tikus. Belakangan
ada yang demi bisa mudik berusaha mengelabui aparat yaitu mudik dengan
menggunakan mobil box sayuran, ada yang masuk 
dalam container, memakai mobil ambulans, naik bajai, dan macam-macam
cara dilakukan supaya tetap bisa mudik.

Fenomena
mudik menjelang lebaran ini selalu menarik untuk dicermati. Bayangkan, jutaan
orang secara bersama-sama dan bergelombang dengan berbagai macam alat
transportasi meninggalkan kota-kota besar tempat mereka tinggal dan mencari
nafkah untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Demi untuk perjuangan ini tidak
jarang ada diantara mereka yang tidak sampai ke kampung halamannya karena
mengalami kecelakaan dan meninggal di jalan. Namun itu tidak menyurutkan yang
lain, perjuangan menuju kampung halaman tetap dilaksanakan, tidak bisa tidak,
karena ini hanya setahun sekali. Begitu kata mereka.

 

Mengumpulkan “Balung Pisah”

 

Dalam
masyarakat Indonesia nilai-nilai kekerabatan dan kekeluargaan memang sangat
dipegang teguh. Kohesi sosial dan rasa persatuan dibangun dari nilai
kekerabatan dan kekeluargaan ini. Karena itu rasa persaudaraan itu harus tetap
dipupuk dan diuri-uri (bahasa jawa) agar tetap lestari dan diwariskan
kepada generasi anak cucu di kemudian hari. Masing-masing suku bangsa
mengenalkan silsilah keluarga mereka kepada anak cucunya  agar supaya anak cucu itu mengetahui dari mana
mereka  berasal dan mengenal siapa-siapa
saudara dekat baik dari jalur ibu maupun dari jalur ayah.

Dalam
falsafah Jawa usaha tersebut disebut dengan istilah ngumpulke balung pisah yang
makna harfiahnya kurang lebih mengumpulkan tulang yang berserakan. Sementara
makna terminologinya adalah mengumpulkan kembali kerabat yang sudah saling
terpencar agar bisa saling mengenal dan saling mengetahui sebagai bagian dari
keluarga besar. Bagi generasi yang sudah tua dan dewasa mungkin mereka sudah
saling tahu dan mengenal kerabat mereka, namun tidak bagi anak-anak dan cucu
meraka yang lahir kemudian. Anak-anak ini belum tentu mengenal keluarga besar
mereka, maka para orang tua merasa punya tanggungjawab untuk mengenalkan anak
cucunya itu kepada sanak kerabat atau keluarga besarnya. Hal ini dilakukan
supaya sebagai bagian dari keluarga besar yang sudah beranak pinak  setiap anggota keluarga baru bisa mengenal
silsilah keluarga  besarnya. Hanya pada
moment lebaran, sanak saudara yang sudah terpencar dimana-mana itu bisa
berkumpul dan bertemu. Ini adalah moment reuni keluarga yang harus dirayakan
dan dimanfaatkan. Karena setelah itu semua akan kembali lagi terpencar ke
habitat tempat tinggalnya masing-masing. Dengan semangat ngumpulke balung
pisah
itu, maka mudik pada saat hari raya bisa tidak bisa harus diusahakan,
kecuali ada alasan-alasan tertentu.

 

Kontestasi Status Sosial

 

Mudik tentu
hanya dialami bagi mereka yang tinggal di rantau, terutama mereka yang
mengalami proses urbanisasi. Ketika kampung tidak bisa menyediakan dan
menjanjikan peluang kerja dan kesejahteraan secara ekonomi, maka banyak orang
kampung yang merantau ke kota-kota besar sebagai pusat ekonomi. Tujuannya sama
yaitu mencari pekerjaan dan memperbaiki kesejahteraan keluarga yang ditinggal
di kampung. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Makasar
tentu menjadi tujuan bagi orang-orang kampung ini. Mereka bekerja apa saja
sesuai dengan pendidikan dan keterampilannya. Setelah tinggal dan menetap di
pusat-pusat ekonomi selama beberapa tahun, diantara mereka ada yang berhasil
menaikkan taraf ekonomi,  namun ada juga
yang gagal. Namun baik yang gagal, lebih-lebih yang berhasil di kota, kerinduan
akan kampung halaman setiap saat memanggil-manggil. Hari raya adalah saat yang
tepat untuk memenuhi panggilan itu. Kali ini bukan sekedar untuk mengobati
kerinduan akan kampung halaman, tetapi juga untuk menunjukkan keberhasilan yang
diperoleh di kota kepada sanak keluarga dan tetangga kanan kiri.

Bagi kita
yang tidak mudik, tentu tidak pernah mengalami sensasi mudik ini baik saat
mempersiapkan maupun pada saat di perjalanan. Namun bagi para pemudik,
jauh-jauh hari harus mempersiapkan segala sesuatunya baik dari sisi anggaran,
barang yang harus di bawa, konsumsi dan akomodasi, serta moda transportasi yang
akan digunakan. Apapun barang yang akan di bawa ke kampung waktu mudik
sesungguhnya bukan sekedar kebutuhan tetapi juga bermakna simbolik yang
menunjukkan status dan ukuran keberhasilan sebagai perantau. Jangan heran jika
pada saat musim mudik lebaran terjadi peningkatan penjualan kendaraan roda
empat baik yang baru maupun yang bekas. Rental-rental mobil juga mengalami
peningkatan transaksi. Mobil dalam kaitan ini menjadi simbol yang mudah
dikenali untuk menunjukkan status pemiliknya atau pengendaranya dan tentu saja
barang-barang lainnya seperti Hand Phone, pakaian, dan lain-lain. Di kampung
barang-barang yang menjadi simbol ini diparkir, dipajang dan dipakai sebagai
pembuktian kerberhasilan sebagai perantau. Sebab itu, di kampung saat hari raya
terjadi fenomena kontenstasi status sosial.

 

Mudik Spritual

 

Memahami
fenomena mudik lebaran  sebagaimana yang
terjadi setiap tahun dalam masyarakat kita sebagaimana di atas, sesungguhnya
dapat direfleksikan secara spiritual. Pada dasarnya setiap manusia memiliki
kesadaran dan orientasi tentang asal usul darimana ia lahir dan akan kemana
pada akhirnya. Secara duniawai  kerinduan
akan kampung halaman dan asal usul tanah kelahiran serta keinginan untuk napak
tilas perjalan hidup adalah kesadaran tersembunyi yang dimiliki oleh semua
manusia.

Sebagai
orang yang beragama, secara ukhrawi manusia juga memiliki kesadaran bahwa
kehidupan ini termasuk dirinya sendiri tidak akan pernah langgeng. Semua
mengalami kefanaan dan akan mengalami akhir. Keimanan kita mengajarkan bahwa
semua manusia pada akhirnya akan juga “mudik” ke kampung yang abadi yaitu
kampung akhirat. Alqur’an menggambarkan hal ini:

 

???
?????? ?????? ??? ??? ???? ?????? ?????? ???
????? ????? ???? ?????? 

 “Dunia ini hanya main-main dan senda gurau
belaka, dan kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, maka
tidaklah kamu memahaminya
”. (QS.Al-An’am: 32). “

 

???
??? ?????? ?????? ??? ??? ???? ??? ?????
?????? ??? ??????? ?? ????? ?????? 

Dan tiadalah
kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya
akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui
” (QS.Al-Ankabut:64).

 

???????
??? ????? 

Dan
kampung akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya
” (QS. Al’la : 17).

 

Pelajaran
mudik lebaran mengajarkan kepada kita bahwa bagi kita yang memiliki tradisi
mudik pulang kampung maupun yang tidak pada akhirnya semua akan mudik juga ke
kampung yang sesungguhnya. Mau tidak mau, suka atau tidak kita pasti akan
menuju kampung tersebut, kampung itu adalah kampung akhirat. Itulah kampung
akhir dari perjalanan manusia. Untuk “mudik” ke kampung akhirat itu tentu
banyak bekal yang harus kita siapkan. Jika mudik lebaran, pemudik membawa bekal
barang-barang yang akan dibutuhkan selama di kampung, maka kalau kita mudik ke
kampung akhirat bekal kita adalah segala amal shaleh yang pernah kita lakukan
di dunia. Di sana tidak ada kontenstasi status sosial dan status ekonomi,
tetapi yang ada adalah konstenstasi amal kebaikan. Siapa yang banyak membawa
amal baik maka akan dimuliakan di kampung akhirat dan siapa yang minim bekal
kebaikan, maka akan dihinakan di kampung akhirat.
 

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.