metrouniv.ac.id – 01/01/2024 – 19 Jumadil Akhir 1445 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Pengajar Bahasa Inggris di IAIN Metro)
“Bercerita temanku tentang kawan temannya
Nyatanya skripsi beli, oh, di sana”
(Iwan Fals, 1987)
Beberapa lagu dan kisah kerap memiliki daya pukau yang bertahan lama. Yang ‘menyihir’ tidak hanya audience pada masa karya itu dibuat. Namun juga mampu menggugah pendengar dan pembaca dari generasi yang datang jauh setelah karya tercipta. Ketika tidak semua karya miliki daya magis yang merentang-panjang; sebuah karya yang mengandung nilai (values) yang melintas-generasi, diberi label old but gold.
Seperti kisah berikut ini, tentang pendekar penyelamat ikan. Alkisah, seorang guru kanuragan dan muridnya yang belia, melintasi sungai melalui jembatan bambu. Air sungai deras dan keruh usai hujan lebat. Di atas jembatan, dari arah berlawanan, seorang petani tua kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh dan segera terseret arus. Sang guru melesat ringan. Mengangkat tubuh si petani dan menyelamatkannya dari arus yang menderu-pikuk. Dua windu berselang, si anak belia telah menjelma pendekar muda yang sedang turun gunung. Ia melintasi sungai melalui jembatan bambu yang sama. Kali ini cuaca cerah, aliran sungai cenderung jernih meski tetap berarus. Pendekar kita yang berjalan sendiri tanpa panduan sang guru, tiba-tiba masygul karena menyaksikan ikan-ikan yang terbawa arus. Ia lantas melesat mengeluarkan ikan-ikan itu dari sungai. Terlihat roman sukacita pada dirinya karena berpikir telah menyelamatkan makhluk Tuhan.
Cerita pendekar penyelamat ikan, yang datang dari masa lampau, itu barangkali tidak terlalu relate dengan kegundahan seorang profesor baru-baru ini. Sang profesor, yang pernah menjabat rektor sebuah universitas terkemuka di Indonesia, berbagi sebuah keprihatinan di media sosial: “Menyedihkan. Cukup lama saya mendengar ada pengusaha bergerak di bidang pembuatan skripsi, tesis, dan bahkan disertasi. Jika berita ini benar, dan rasanya benar, maka perusak pendidikan di negeri ini sebenarnya bukan siapa-siapa, tetapi adalah orang yang mengurus pendidikan itu sendiri.” Kerisauan sang profesor, dikomentari oleh koleganya, yang juga seorang guru besar, “…ada juga tukang khusus bikin jurnal.”
Sang profesor, temannya yang juga profesor, dan pendekar kita tampak bertemu pada sebuah tema besar yang sama: skema penyelamatan. Terbaca, ada oknum-oknum yang diduga ‘menyelamatkan’ mereka yang tidak memiliki cukup resources untuk menyelesaikan skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal ilmiah. Oknum tersebut, seperti halnya pendekar kita itu, memiliki sumberdaya dan kemampuan untuk menuntaskan penyelamatan. Dan, mereka yang diduga ‘terselematkan’ akan menjadi seperti ikan-ikan yang dievakuasi dari sungai oleh sang pendekar. Analogi ini, barangkali, yang menyebabkan sang profesor dan teman profesornya itu gundah-gulana.
Kegundahan dan keprihatinan sang profesor dan temannya itu, sejatinya adalah sebuah evidence. Yaitu, bukti bahwa keduanya adalah pendidik sejati. Yang seolah ingin menandaskan kembali bahwa karya ilmiah adalah pergumulan intelektual yang intens. Yang membutuhkan integritas. Yang semestinya bebas dari paradoks: merampungkan sebuah karya akademik dengan cara-cara yang tidak akademis. Yang seperti membersihkan wajah peserta didik dengan tangan berlumur jelaga.
Memang patut diakui, merampungkan karya ilmiah nyaris tidak pernah mudah. Ia ibarat perjalanan panjang-mendaki yang dimulai dengan perumusan a vision statement–satu kalimat yang menjadi pesan utama karya ilmiah–pembacaan literatur, penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian, hingga penulisan laporan. Dan jika akan di-submit ke sebuah jurnal, diperlukan penyesuaian format IMRAD (Introduction, Method, Result, and Discussion), translasi, revisi yang bisa lebih dari sekali, dan proofreading, atau pembacaan terakhir untuk memastikan akurasi kebahasaan dan gagasan.
Trajektori yang panjang tersebut kerap mengundang lelah, jenuh, dan frustasi para pejuang karya ilmiah. Di titik inilah, godaan itu biasanya menyeruak. Salah satunya, seperti lanjutan lirik lagu Iwan Fals: buat apa susah-susah bikin skripsi sendiri… tinggal membeli tenang sajalah. Tampak tidak salah jika lagu Iwan Fals yang berjudul Teman Kawanku Punya Teman, dan kisah pendekar penyelamat ikan, dilabeli old but gold atau oldies but goodies. Karena meski keduanya datang dari masa lampau, pesan di dalamnya relate dengan kegundahan sang profesor dan teman profesornya itu, dewasa ini.
Pesan yang sama akan selalu mampu menyelusup sanubari pendidik sejati; menggugah keprihatinan mereka; lalu meresonansikannya dengan segala cara-bisa. Dan jika Saudara dan Saudari juga tergugah oleh kegundahan sang profesor dan kawannya yang juga profesor itu, mungkin Saudara(i) memiliki jiwa pendidik sejati. Jiwa yang akan bertanya-tanya tentang status keberkahan ilmu dan amal jariyah (‘ilmun yuntafa’u bihi) pada karya hasil beli dari luar sana. Atau jiwa yang, paling tidak, akan tergetar manakala mendengar lanjutan lirik lagu Iwan Fals yang oldies but goodies itu. Untuk itu, selamat googling dan mendengarkan.
Wallahu a’lam.
Posting (ss_humas)